Iklan

Ketikkan Kata Kunci

Loading...

Thursday, November 24, 2011

Contoh Hasil dan Pembahasan Laporan Fisiologi Ternak Fister


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Respirasi
1.      Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Data respirasi hewan percobaan tiap menit.
No
Respirasi/Menit
Ayam
Merpati
Kelinci
Marmot
Sapi
Kambing
1
56
51
74
86
18
26
2
52
50
80
76
22
28
3
51
55
78
75
19
33
4
49
49
82
78
26
24
5
50
52
75
81
23
24
X
51,6
51,4
77,8
79,2
23,6
27
      Sumber: Laporan Sementara
2.      Pembahasan
Respirasi adalah proses pengambilan oksigen dari udara bebas untuk memberikan kebutuhan oksigen kapada darah dan mengambil karbon dioksida dari darah dan dikeluarkan melalui alveoli. Pada percobaan yang dilakukan diperoleh hasil yang berbeda-beda pada tiap hewan percobaan. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan tentang frekuensi rata-rata respirasi tiap menit pada masing-masing hewan percobaan adalah sebagai berikut : ayam 51,6 kali; burung merpati 51,4 kali; kelinci 77,8 kali; marmot 79,2  kali; sapi 23,6 kali; dan kambing 27 kali tiap menit.
Sedangkan standart respirasi pada keadaan normal tiap menit pada hewan percobaan adalah sebagai berikut : kelinci 50 – 60 kali ; marmut 60 – 100 kali ; ayam 20 – 50 kali ; burung merpati 20 – 50 kali ; sapi 12 – 16 kali; dan domba 12 – 15 kali ( Akoso, 1996 ). Dari standart respirasi diatas terdapat adanya beberapa perbedaan dengan hasil praktikum.
Frekuensi rata-rata pada hewan percobaan berbeda-beda. Pada percobaan ini marmot mempunyai frekuensi respirasi rata-rata yang paling besar yaitu 79,2 kali tiap menit dan sapi mempunyai frekuensi rata-rata yang paling sedikit yaitu dengan 23,6 kali tiap menit.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dibandingkan dengan hewan besar seperti sapi dan kambing, hewan kecil seperti unggas, kelinci dan marmot mempunyai frekuensi respirasi rata-rata lebih banyak tiap menitnya.  Hal ini dikerenakan ada beberapa hewan percobaan yang mengalami strees, banyak sedikitnya aktivitas gerakan, suhu lingkungan kandang dan emosi yang terjadi pada hewan percobaan yang dapat mengakibatkan strees pada hewan tersebut.
Frekuensi pernapasan permenit tiap-tiap hewan adalah berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah temperatur tubuh, emosi, ketakutan, hormonal, jenis kelamin dan usia (Frandson, l992). Perbedaan frekuensi pernapasan tiap menit pada tiap-tiap hewan dapat dibuktikan dengan diperolehnya hasil pengamatan pada beberapa hewan yang berbeda jenisnya.
B.     Pengukuran Tekanan Darah/Pulsus
1.      Hasil Pengamatan
Tabel 2 Data Denyut Jantung Hewan Percobaan Tiap Menit.
No
Denyut Jantung/Menit
Ayam
Merpati
Kelinci
Marmot
Sapi
Kambing
1
58
61
131
95
54
75
2
76
62
93
86
56
62
3
75
61
83
102
55
67
4
72
61
98
94
52
62
5
66
62
72
91
54
60
X
69,4
61,4
95,4
93,6
54,2
65
      Sumber: Laporan Sementara
2.      Pembahasan
Denyut jantung adalah pukulan ventrikel kiri kepada dinding anterior yang terjadi selama kontraksi ventrikel. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan tentang frekuensi rata-rata denyut jantung tiap menit pada masing-masing hewan percobaan adalah sebagai berikut : kelinci 95,4 kali, marmot 93,6 kali, ayam 69,4 kali, burung merpati 61,4 kali, sapi 54,2 kali, dan kambing 65 kali tiap menit.
Sedangkan standart denyut jantung pada keadaan normal tiap menit adalah sebagai berikut : kelinci 120 – 150 kali, marmot 120 – 150 kali, ayam 120 – 170 kali, burung merpati 100 – 150 kali, sapi 40 – 60 kali, dan domba 70 – 80 kali tiap menit (Akoso, 1996).
Frekuensi denyutan jantung pada seekor kelinci dalam keadaan normal adalah 120 – 150 kali tiap menit (Akoso, 1996). Sedangkan frekuensi denyutan jantung kelinci pada saat percobaan tiap menit adalah 95,4 kali. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara denyut jantung normal dengan denyut jantung hasil percobaan. Denyut hasil percobaan jauh lebih cepat dari pada denyut jantung saat normal, hal ini dipengaruhi oleh kesehatan dan kondisi lingkungan dari kelinci tersebut, sehingga frekuensi denyut jantungnya lebih cepat dari normal. Dengan terganggunya kesehatan pada kelinci memungkainkan adanya hormon yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga kelinci mempunyai frekuensi yang jauh diatas normal.
Frekuensi denyut jantung antara sapi dan kambing jika dibandingkan, dapat diketahui bahwa frekuensi denyut jantung kambing dibawah normal dari pada sapi yang cenderung stabil. Hal ini disebabkan karena sapi tersebut dalam kondisi tenang dari pada kambing. Salah satu sebab yang lain adalah karena kambing yang kami gunakan sebagai percobaan masih kecil dan belum dewasa.
Hasil pengukuran juga menunjukkan bahwa ukuran tubuh juga berpengaruh terhadap frekuensi denyut jantung. Pada mamalia dapat dibandingkan antara kelinci dan marmot. Kelinci mempunyai frekuensi denyut jantung sebesar 95,4 kali tiap menit. Sedangkan marmot mempunyai frekuensi denyut jantung sebesar 93,6 kali tiap menit. Hasil ini menunjukkan bahwa marmot mempunyai frekuensi denyut jantung lebih besar dari pada kelinci. Faktor yang menyebabkan adalah, ukuran tubuh marmot lebih kecil dari pada kelinci. Semakin kecil ukuran tubuh maka frekuensi denyut jantung semakin cepat.
Hasil pengukuran pada unggas juga menunjukan  bahwa, antara ayam dan burung merpati diperoleh frekuensi denyut jantung burung merpati lebih besar dari pada ayam. Pada ayam adalah 69,4 kali tiap menit, sedangkan pada burung merpati adalah 61,4 kali tiap menit. Ukuran tubuh  burung merpati yang lebih kecil dari pada ayam, memungkinkan burung merpati untuk mempunyai frekuensi denyut jantung lebih besar.
Denyut jantung tercepat pada marmot yaitu 102 kali tiap menit. Sedangkan denyut jantung terbanyak pada sapi yaitu 56 kali tiap menit. Marmot mempunyai frekuensi denyut jantung tercepat karena marmot banyak melakukan gerakan. Pada sapi tidak melakukan banyak gerakan, sapi dalam kondisi tenang dan nyaman saat dilakukan praktikum.
Dari hasil pengukuran dapat diketahui bahwa mamalia mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih cepat dibandingkan frekuensi denyut jantung unggas. Hal ini dikarenakan bangsa mamalia lebih aktif  bergerak dari pada bangsa unggas, dengan banyaknya gerakan membuat frekuensi denyut jantung mamalia semakin cepat.
C.    Waktu Pendarahan
1.      Hasil Pengamatan
Tabel 3 Data Waktu Pendarahan
No
Waktu Pendarahan (detik)
Kelinci
Marmot
Ayam
Merpati
1
43
42
30
39
2
40
39
36
45
3
41
46
40
48
 Sumber: Laporan Sementara

2.      Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan sebanyak 3 kali penusukan pada pembuluh darahnya, waktu hewan percobaan adalah sebagai berikut : kelinci 43, 40 dan 41 detik; marmot 42, 39 dan 46 detik; ayam 30, 36 dan 40 detik; dan burung merpati 39, 45 dan 48 detik. Penentuan waktu pendarahan ini dihitung mulai dari darah keluar setelah penusukan hingga berhenti.
Perbedaan waktu pendarahan pada mamalia diperoleh bahwa kelinci lebih cepat dari pada marmot. Hal ini disebabkan karena efisiensi benang fibrin dan aktivitas trombosit dalam membentuk enzim trombokinase pada hewan kelinci lebih kuat jika dibandingkan dengan hewan marmot.
Pada bangsa unggas, ayam memerlukan waktu pendarahan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan waktu pendarahan burung merpati yaitu 39, 45 dan 48 detik, sedangkan ayam mencapai 30, 36 dan 40 detik. Proses koagulasi pada burung merpati relatif lebih cepat disebabkan karena  pembentukan enzim trombokinase pada burung merpati lebih cepat, sehingga pengubahan fibrinogen semakin cept pula, selain itu penusukan pembuluh darah pada burung merpati merupakan pembuluh darah besar sehingga proses koagulasi terjadi sangat lambat.
Jika dibandingkan antara mamalia dan aves berdasarkan tabel 3.1 diatas dapat diketahui bahwa waktu pendarahan pada mamalia lebih lama jika dibandingkan dengan waktu pendarahan aves. Hal ini disebabkan karena efisiensi pembentukan benang fibrin dalam mempercepat proses koagulasi pada aves lebih dan pembentukan enzim trombokinase pada mamalia lebih cepat, sehingga pengubahan fibrinogen menjadi fibrin pun lebih cepat.
Pada tabel 3.1 juga diperoleh bahwa marmot mempunyai waktu pendarahan terlama yaitu 42 detik, proses koagulasi pada marmot relatif lebih lama. Sedangkan waktu pendarahan tercepat pada burung merpati, dengan 39 detik. Hal ini disebabkan karena efisiensi pembentukan benang fibrin dalam mempercepat proses koagulasi pada burung merpati  lebih cepat.
Setelah dilakukan percobaan diketahui bahwa proses waktu pendarahan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, faktor efisiensi cairan tenunan darah / fibrin dalam mempercepat proses koagulasi, faktor fungsi pembuluh kapiler darah, dan faktor adanya trombosit didalam darah serta kemampuan trombosit membentuk thrombus. Selain itu besar kecilnya luka juga mempengaruhi waktu pendarahan. Luka yang besar lebih lama dibandingkan dengan luka yang kecil.
D.    Pembekuan Darah
1.      Hasil Pengamatan
Tabel 4 Data Waktu Pembekuan Darah
No
Waktu Pembekuan (detik)
Kelinci
Marmot
Ayam
Merpati
1
30
65
64
45
2
60
54
19
34
3
90
36
26
28
Sumber: Laporan Sementara
2.      Pembahasan
Dari percobaan yang dilakukan dapat diketahui bahwa proses pembekuan darah adalah dimulai dari luka yang terdapat pada pembuluh darah sehingga mengenai trombosit, trombosit akan pecah dan pecahnya trombosit tersebut akan menghasilkan anzim trombokinase yang dapat mengubah protrombin menjadi trombin, kemudian trombin yang dibentuk tersebut akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin yang berupa filamen-filamen / jala (Ganong, 1995).
Waktu pembekuan darah dihitung mulai dari darah keluar dari pembuluh darah hingga terbentuknya benang-benang fibrin / terjadinya koagulasi darah. Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui waktu pembekuan darah pada masing-masing hewan adalah sebagai berikut : kelinci 30 detik; marmot 65 detik; ayam 64 detik; dan burung merpati 45 detik.
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa waktu pembekuan darah pada kelinci ada yang lebih cepat jika dibandingkan dengan marmot, hal ini dikarenakan pembuluh darah pada marmot lebih besar ketika terjadi penusukan jika dibandingkan dengan kelinci. Karena pembuluh darah marmot yang ditusuk termasuk termasuk yang besar maka darah yang keluar sangat banyak sehingga aktifitas enzin trombokinase akan berjalan lebih lambat untuk menjangkau darah secara keseluruhan.
Waktu pembekuan darah pada burung merpati lebih cepat jika dibandingkan dengan waktu pembekuan darah pada ayam, hal ini disebabkan karena pembentukan trombin pada burung merpati lebih cepat pembentukan trombin pada ayam, sehingga benang-benang fibrin yang terbentuk pada burung merpati lebih cepat. Selain itu pembuluh darah pada ayam lebih besar jika dibandingkan dengan pembuluh darah burung merpati, sehingga proses pembekuan lebih lama.
Perbandingan aktivitas enzim trombokinase pada kelas mamalia dan kelas aves dapat dilihat berdasarkan hasil pengamatan bahwa benang-benang fibrin lebih cepat terbentuk pada kelas aves, karena pembuluh darah pada kelas mamalia lebih besar jika dibandingkan denagan pembuluh darah aves, sehingga luka yang dibentuk lebih cepat menutup pada pembuluh darah yang kecil.       
Setelah dilakukan percobaan diketahui bahwa proses pembekuan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, faktor adanya trombin yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin, ukuran pembuluh darah, adanya vitamin K, dan adanya ion kalsium.












E.     Sediaan Apus/Ulas Darah
1.      Hasil
Tabel 5 Apus / Ulas Darah  Hewan Percobaan.
kelinci
marmot
ayam
Burung merpati
Gambar 5.1
Apus Darah Kelinci





Gambar 5.2
Apus Darah Marmot




Gambar 5.3
Apus Darah Ayam





Gambar 5.4
Apus Darah Burung merpati





Keterangan:
1. Erytrocyt
2. Leukocyt
3. Inti leukocyt
4. Trombocyt
5. Plasma
Keterangan:
1. Erytrocyt
2. Leukocyt
3. Inti leukocyt
4. Trombocyt
5. Plasma
Keterangan:
1. Erytrocyt
2. Leukocyt
3. Inti leukocyt
4. Trombocyt
5. Plasma
Keterangan:
1. Erytrocyt
2. Leukocyt
3. Inti leukocyt
4. Trombocyt
5. Plasma
Sumber : Laporan sementara.
2.      Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat diketahui bahwa komponen seluler darah pada setiap apus yang dibuat terdiri atas sel darah merah (erytrocyt), sel darah putih (leukocyt), keping darah (trombocyt) dan plasma darah
Jika dilihat dibawah mikroskop sel darah merah (erytrocyt) memiliki ciri berwarna merah muda, karena banyak mengandung haemoglobin dan bagian tengahnya berwarna agak pucat dari pada bagian tepi sel tersebut. Erytrocyt memiliki permukaan yang relatif luas jika dibandingkan dengan keping darah, karena sel darah merah mempunyai arti penting dalam proses pertukaran O2 melalui membran sel. Setelah diamati erytrocyt memiliki bentuk seperti cakram yang bikonkaf yang pada bagian tepinya lebih tebal jika dibandingkan pada bagian tengahnya.
Ciri khas yang dimiliki oleh sel darah putih (leukocyt) pada setiap apus yang dibuat dan dilihat dibawah mokroskop adalah leukocyt terlihat bening dan tidak berwarna. Jika dibandingkan dengan sel darah merah, leukocyt memiliki bentuk dan ukuran yang lebih besar, karena leukocyt mempunyai sifat yang fagositosis yang dapat mamberikan pertahanan tubuh terhadap bibit penyakit denagn cara memasukan dan mencerna mikroorganisme dan partikel asing yang masuk dalam darah. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan leukocyt memiliki inti, yang dapat memungkinkan leukocyt tersebut dapat bergreak bebas dalam darah. Leukocyt memiliki jumlah yang lebih serdikit jika dibandingkan dengan sela darahmerah.
Keping darah (trombosit), jika dilihat dibawah mikroskop berupa sel-sel yang kecil yang bergerombol dan mempunyai bentuk yang irreguler. Jika dibandingkan denagn leukocyt dan erytrocyt, keping darah memiliki jumlah yang lebih banyak dalam apus darah, kurang lebih sepertiga dari sel darah merah dan memiliki ukuran yang lebih kecil dari keduanya, karena trombocyt berfungsi untuk mengurangi hilangnya darah pada pembuluh darah yang mengalami luka.
Selain komponen seluler darah juga terlihat cairan yang merupakan tempat menempelnya komponen tersebut dalam darah, cairan tersebut disebut plasma darah. Penampilan plasma darah pada apus setiap percobaan tampak lebih luas jika dibandingkan dengan ketiga komponen sel darah, hal ini memungkinkan sel darah menempel pada plasma, karena hampir setiap permukaan apus terdapat cairan plasma.
F.     Thermoregulasi
1.      Hasil Pengamatan
Tabel 6.1 Temperatur Rektal Pada Hewan Percobaan
No
Temperatur Rectal ( 0C )
Ayam
Merpati
Kelinci
Marmot
Sapi
Kambing
1
41.5
43
38,9
37,5
39,8
40
2
41,6
42
38,2
37,6
39
39,9
3
41,4
42,1
38,1
37,7
39
39,8
X
41,5
42,37
38,4
37,6
39,2
39,9
Sumber: Laporan Sementara
Tabel 6.2 Proses Pelepasan Panas
No
Temperatur Rectal ( 0C )
Ayam
Merpati
Kelinci
Marmot
1
41,6
43,1
39,2
39,5
2
41,8
41,6
38,8
39,3
3
41,7
42,7
38,5
39,1
X
41,7
42,47
38,83
39,3

No comments:

Post a Comment